9 Summers 10 Autumns

9 Summers 10 Autumns TIX Hey guys, niatnya sih mau post ini directly after i watched it. Yet, i was so sleepy and well procras proved their existence. You can see on the picture above, i took my time a bit for Friday night with my family. The funny thing is someone asked me if i was in dating that day? Yeah, date with the entire family. Anyway, i don’t know whether because it’s almost late night or something else but THERE WERE ONLY 10 HUMANS IN THE THEATER (include 4 of us). My Dad complained how Indonesians don’t respect good and inspiring Indonesian movies.

So, i never make any reviews ya. Anyway IRL i really ‘judge’ many thing such as movies, music videos, musics, writings. I don’t know but really it’s always STUCK when i tried to write it. Then, please don’t hope anything such kind of professional reviews from movies blogs. No, no.

Okay, then. 9 Summers 10 Autumns pada awalnya adalah sebuah novel oleh Iwan Setyawan. Buku ini termasuk dalam kategori Best Seller dan juga di re-publish dalam bahasa Inggris (which is my dream for my upcoming writings :’)). I haven’t finished the book yet. Waktu itu, saya baca yang English version tapi masih awal di bookstore. Dan SAYANG BANGET, my money wasn’t enough UGH. So, saya gak beli dan kelupaan untuk beli sampai sekarang. Meskipun sebenarnya my Dad bought the book the day after we watched it hahaha. Still, i haven’t read it. Sok busy.

Singkatnya, judul novel ini berasal dari how long dia bekerja meraih mimpi di kota New York hingga kembali ke Indonesia. Yes, the answer is 9 summers 10 autumns. First time i saw this novel, i thought it will be the story of his life in New York. True but not at all, he focused about HOW he managed to get there, to the Big Apple which is New York from Malang, the Apple city. Just like what i said before, gue gak pinter nyusun kata buat NULIS review. So, yang akan gue paparkan di bawah ini sebenarnya what i feel, what i got after watched the movie. Ini semua bermula dari question on my ask.fm yang nanya about 9 summers 10 autumns. Well, gue ini pecinta movies. Setiap kali gue nonton movie, gue bener – bener perhatiin bukan hanya cerita tapi akting dari pemain, background, soundtracknya, lightingnya, relevansinya. Dan kalian tahu apa yang saya liat?

NOTHING

What? Sebodoh itu kah gue? Sejahat itu kah gue? Or am i blind? I wonder for it too. Never in my life that i watched a movie and it feels really really like Nostalgic. Saya pun gak ada rasa ingin menangis sekalipun. It feels like a deep pleasure to watch it. Sepanjang movie itu berjalan, cuma ada 2 hal yang di otak saya yaitu jalan cerita film dan jalan cerita hidup gue. Saya gak mau nyama-nyamain hidup saya sama Mas Iwan. Saya masih muda dan dia sudah dewasa dan work hard for many things, achieved what he deserved. My Dad laughed with a smile on his face, “Kok kayak kamu ya, Drey?” Saat itu rasanya pertahanan saya mau runtuh. For me, saya gak mau orang tua saya merasa bahwa anaknya have been through many hard things. Disini bukannya mau curhat atau membanggakan kesusahan saya. Bilanglah saat saya masih kecil hingga lulus SD, saya termasuk dalam kategori bawah untuk status sosial. Puji Tuhan, saya sekolahnya memang di sekolah swasta yang sangat bagus dan cukup mahal karena di daerah mahal juga.

Kalau dicompare sama Mas Iwan, saya merasa malu. Saya bukan apa – apa dibandingkan harapannya yang superb sewaktu masih kecil. Pada sebagian movie di awal menceritakan bahwa Iwan Setiawan, anak seorang supir angkot yang tidak memiliki pendidikan tinggi. Dia sangat malu untuk bermain dengan teman – temannya karena dia merasa miskin. Contohnya, dia tidak memiliki sepeda yang sedang nge-trend saat itu. Uang sekolah Iwan dan ketiga saudara perempuannya pun menunggak. Ia terancam tidak bisa mengikuti ujian. Namun tidak hanya itu saja. Ia memiliki harapan supaya Bapaknya bisa bahagia dengan apa yang ia lakukan. Sementara persepsi Bapaknya terhadap seorang anak laki – laki adalah harus pemberani baik dalam berkelahi, membantu Bapaknya dalam pekerjaan laki – laki dan kuat. Semacam itu. Iwan yang memang sangat dekat dengan saudara – saudara perempuannya, merasa lebih nyaman untuk membantu mereka di dapur. Ia pun sangat takut saat ke sekolah terutama saat teman sekelasnya mengajak bertengkar. Iwan selalu berlindung dibalik Ibunya. Problema terus bertumpuk. Iwan pun tidak ingin melihat hati orang tuanya susah. Ia pun mulai terus belajar hingga malam. Dia sangat bersemangat untuk mengambil semua ilmu karena ia lelah dengan keadaan hidupnya yang susah. Salah satu percakapan antara Ibunya dan Iwan yaitu saat ia melihat Iwan masih belajar di malam hari yang gelap.

“Iwan, kamu gak takut gelap?”

“Gak bu, Iwan takut miskin.”

Gak ada yang salah dari pernyataan itu. Kemiskinan memang menakutkan. Kemudian dengan semangat dan kerja kerasnya, dia meraih juara 1 di sekolah. Kerja kerasnya terus berlanjut hingga SMA. Saat itu, ia juga membantu Bapaknya untuk menjadi kenek angkot. Which is his dad’s wish for him to help his dad. Everything changes when Iwan passed the qualification to enter Bogor Agricultural University (IPB). Iwan menyampaikan bahwa ia diterima PMDK tanpa tes di IPB (kalau jaman sekarang namanya SNMPTN Jalur Undangan). Bapaknya menentang habis – habisan. Ia ingin supaya anak laki satu-satunya membantu dia di kampung. Menurut beliau, itulah yang harus dilakukan seorang laki – laki. Dipercepat hingga saat malam hari dimana Bapak dan Ibu Iwan bertengkar karena keinginan kuliahnya. Iwan yang mendengar dari balik pintu (nguping) pun marah kepada Bapaknya. Perkataan itu ‘menemplak’ Bapaknya,

“Bapak gak bisa milih siapa yang jadi anak Bapak. Begitu pula dengan saya gak bisa memilih siapa yang pantas menjadi Bapak saya.”

Keesokan harinya, dalam awkward situation in angkot, Bapak Iwan menanyakan kembali keseriusannya untuk pergi ke Bogor. Iwan menjawab dengan yakin. Lalu angkot berbalik arah, Iwan tampak bingung. Angkot berhenti di suatu tempat, sepertinya bengkel. Setelah berbicara sebentar dengan orang disana, ia kembali ke angkot dan memberikan Iwan amplop. Ia berkata bahwa uang yang di dalam amplop itu akan cukup buat hidupnya di Bogor. So, ternyata Bapak Iwan menjual angkot tersebut. Skip aja the rest of the movie. The point is dia gak hanya sampai masuk IPB doang. Dia berhasil lulus dengan gelar cumlaude di Fakultas MIPA, jurusan Statistika. Dalam kantor pun, ia bekerja dengan tulus dan semangat dibandingkan karyawan lainnya yang terus mengundur – undur pekerjaan. Kemudian ia berhasil diterima kerja di New York dan menjadi DIRECTOR, Internal Client Management di Nielsen Consumer Research. Meskipun ia ditawarkan untuk menjadi direktur di EROPA, ia memutuskan kembali ke kampung halaman. Ia merasa pergi ke Eropa bukanlah panggilannya. Buku ini pun dipersembahkan untuk Ayahnya. Mas Iwan pun menyatakan bahwa sosok Ibu dan kakak perempuannya adalah pilar yang kuat untuk hidupnya.

Kembali ke jalur cerita hidup gue. Saya tidak bisa mengungkapkan banyak hal tentang ini. Dulu, saya adalah seorang yang SANGAT pemalu dan penakut terutama melihat perbandingan saya dengan teman sekolah saya yang lain. Tidak bayar uang sekolah itu udah kayak rutinitas. Yang saya tahu, saya sudah MUAK berada di kondisi yang sama. Muak disini menjadi motivasi saya sejak SD. Saya emang kecepetan dewasa. And i feel lucky for that. Saya pun drunk dengan belajar thingy haha. Itu karena ada harapan dari dalam untuk menyatakan keberadaan saya dalam menguasai suatu hal. Saya rasa yang bisa saya lakukan adalah belajar karena saya adalah pelajar. Meskipun 16 tahun hidup gue gak segampang dengan cuma kata ‘belajar’ tapi ya hal yang paling gue syukurin hingga saat ini adalah bisa masuk UI tanpa tes juga menjadi yang termuda di angkatan (yay). That happiness just too much.

Therefore, i feel grateful for watching 9 summers 10 autumns, an inspiring movie. A prove that fiction is not just a fiction.

I promise to finish the book of this awesome story. Selain itu juga untuk Mas Iwan sendiri yang memberikan semangat buat saya untuk nulis lagi dengan perkataannya,

“Fuck buat orang yang bilang nulis itu susah. Saya bukan penulis, maka pertama kali saya menulis dan saya baca, rasanya saya ingin muntah. Tulisan saya lebay sekali. Tapi saya mencoba dan mencoba lagi. Menulis itu bukan masalah kemampuan tapi kemauan. Kita semua bisa menulis, hanya perlu meluangkan waktu. Orhan Pamuk seorang pemenang nobel sastra menulis 8 jam setiap hari!”

Tuh guys disindir.

Copyright 2013 © by Audrey Eunike | admirenot

All rights reserved. 

Please don’t copy or re-posting without my permission .

Advertisements

One thought on “9 Summers 10 Autumns

  1. hei drey..
    congratulation for your achievement until now. for some reasons i have to say that we both can be so close because deeply in our heart and mind we think the same way, we share the almost same moments.
    argh.. i cry reading this. i feel the same way as you feel badly even until nowadays i haven’t recovered yet. poor me.
    so, congratz…
    let’s be the next mas Iwan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s